
LiNGGA. Mengingat tari Zapin juga masuk sebagai budaya Melayu yang bernuansa islami, hendaknya dinas pendidikan lingga jadikan sebagai pelajaran tambahan/exstra kurikuler bidang kesenian.
Insa allah dalam waktu dekat ini kita dari pihak (LAM) perwakilan kecamatan akan coba duduk bersama, LAM Kabupaten dan Dinas Pendidikan guna membahas dan berharap Tarian Zapin dijadikan pelajaran tambahan bidang budaya di sekolah,” pungkas Mohtar.
Ditempat dan waktu terpisah, saat dikonfirmasi prihal yang sama (Tarian Zapin-red). Ketua LAM Kecamatan Singkep Selatan, Maizir, berharap hal yang sama dalam hal ini terkhusus Pemkab lingga agar saling bisinergi membudayakan tarian zapin yang benar saat ini bisa dikatakan hampir hilang keberadaannya, sementara kita bersama tahu rentak tarian zapin seyogyanya sangatlah menarik apa lagi merupakan satu-satunya tarian bernuansa Islami.
Tari Zapin ini harus kita lestarikan kembali, hal ini dilakukan agar setiap yang namanya budaya Negeri Bunda Tanah Melayu peninggalan sejarah warisan turun temurun Budaya Melayu tetap terjaga seutuhnya,” ucap Maizir.
Disinggung konfirmasi terkait harapan dan pandangannya (Maizir-red) menambahkan, saat ini untuk wilayah kecamatan singkep selatan alhamdulilah setelah ditelusuri ternyata masih ada satu orang dari sekian banyak warga masyarakat singkep selatan khususnya di Desa Resang, yang sangat mahir dan Pasih mengenai Tarian Zapin tersebut.
“Alhamdulillah ternyata masih ada satu orang namanya Sahar, yang paham dan mengerti tari Zapin ini. Dan insa allah beliau akan kita jadikan sebagai pelatih nantinya, hanya saja saat ini kita lagi memikirkan bagaimana mikanismenya agar dalam melatih anak-anak nanti beliau mendapat berupa imbalan jasa dengan berbagi ilmu yang terkait melestarikan budaya tari zapin ini”, pungkas Maizir.
Editor : Taufik



