Tata Krama – Apriyan Sucipto, SH, MH

TATA KRAMA (TOTO KROMO), adalah
Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan. Krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Tata krama berarti adat sopan santun, kebiasaan sopan santun (KBLI)

Mungkin sudah banyak orang yang mengetahui tentang istilah “basa krama”, namun tak semua orang mampu dan mau menggunakannya sebagai bahasa kesehariannya.

Sama seperti arti dari kata dasar krama yang merujuk kepada kosa kata ALQURAN “AKROMAKUM” yang berarti paling mulia, basa krama adalah bahasa yang digunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau orang yang kita hormati. Pemilihan kata yang digunakan akan mengambil kata yang paling sopan atau paling halus.

Dalam tingkatannya secara garis besar terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu Ngoko, Madya dan Krama (koen, sampean, dan panjenengan).

Nantinya ketiga pembagian tersebut akan terbagi kembali menjadi sub yang berbeda tergantung penggunakannya. Misalnya saja krama yang terbagi menjadi mudha krama, kramantara dan wredha krama.

Orang yang menggunakan bahasa krama biasanya diidentikkan sebagai orang yang sopan, baik, ramah, dan lain sebagainya, pokok seng apik-apik lah. Sedang orang yang ngomongnya ngoko akan di anggap sebagai orang yang kasar, tidak sopan, urakan dan lain sebagainya.

Apakah benar demikian? Jawabannya bergantung topologi wilayah.seperti contoh kalimat percakapan, di bawah ini. ;
“Min, aku iki arek suroboyo, lek ngomong gak onok cak cok e kurang akrab min” (Surabaya)

“Min, kulo niki sangking ngayogyakarta, menawi wicanten ngoko kok kadose mboten ecoh dateng lisan kulo” (Yogyakarta)

‘Woi, Min. Kham nji Jak Lappung, Cawa Kham Lappung ya, ini. (Lampung), dan/atau

” Horas Min, Aku ini dari Medan, Mulakk kita. (Medan)

Dalam hal bahasa tentu saja kita tidak bisa langsung menjadikan bahasa yang digunakan sebagai tolak ukur utama prilaku seseorang. hal itu berkaitan dengan kebiasaan yang memang sudah mendarah daging diwilayah tertentu.

Di ibaratkan knalpot, bukan berarti suara motor king yang melengking itu pasti sedang melaju kencang ugal-ugalan, dan bukan berarti suara motor matic yang terdengar pelan larinya juga pelan. karena memang pabrikannya sudah begitu dari sananya maka hal tersebut bisa dianggap lumrah. maka kita tidak bisa menyamaratakan semuanya.

Namun tak ada salahnya jika kita berbicara kepada orang yang lebih tua, menggunakan bahasa krama standart seperti enggeh mboten kepada orang yang lebih tua. selain terkesan lebih sopan dan khurmat, biasanya orang tua khususnya ibu – ibu akan sangat senang jika mempunyai menantu yang pinter berbicara bahasa krama, hhehe..

(Tata Krama) – Apriyan Sucipto, SH, MH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *