Lintastoday – Yogyakarta – Di tengah hiruk-pikuk jabatan dan godaan kemewahan, masih ada pemimpin yang memilih jalan sederhana demi kepentingan rakyat. Wali Kota Yogyakarta menolak menggunakan mobil dinas mewah senilai 3 miliar rupiah. Baginya, jabatan bukan tempat berbangga diri dengan fasilitas, tetapi ladang pengabdian untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Alih-alih menikmati kenyamanan kendaraan mewah, ia memilih membeli **600 gerobak sampah** dari dana tersebut, lalu membagikannya ke setiap RW di kota tercintanya. Baginya, kebersihan lingkungan lebih penting daripada kenyamanan pribadi. Ia sadar, kota yang bersih dan sehat adalah cerminan pemimpin yang bijak.
Dalam menjalankan tugas, ia tetap menggunakan **mobil dinas lama**, tanpa keluhan. Karena yang dibutuhkan bukan kemewahan kendaraan, tapi ketulusan pelayanan. Inilah teladan kepemimpinan sejati — mengutamakan rakyat, bukan gengsi.
Semoga sikap sederhana dan pengabdian tulus seperti ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahwa kekuasaan bukan tentang dihormati, tapi tentang melayani. Mari kita tiru semangat ini dalam kehidupan sehari-hari: berpikir untuk orang lain sebelum diri sendiri, dan memilih memberi manfaat, walau tanpa disorot sorotan. Karena sejatinya, pemimpin besar lahir dari hati yang merakyat.
Editor: E. Fik




